Minggu, 20 Mei 2012

KESYIRIKAN DI GUNUNG SALAK (PENYEBAB PESAWAT SUKHOI JATUH??)

MITOS SYIRIK GUNUNG SALAK
(Tanggapan terhadap artikel: misteri gunung Salak, burung pun bisa jatuh di atas makam Syekh)
Bukannya mengambil hikmah dari kecelakaan Sukhoi dengan bertobat dari kemaksiatan dan dosa, seorang “pemuka” di kaki gunung salak, desa palasari, Cijeruk malah menganjurkan makam Syekh Hasan dikukuhkan sebagai tempat ziarah. “Perlu semacam ada pengukuhan makam Syekh Hasan menjadi tempat ziarah” kata Habib Mukhsin Barakbah.
Musibah Sukhoi dan Makam Syekh Hasan
Allah yang maha bijak telah menetapkan bahwa segala sesuatu ada sebabnya. Apakah berdasarkan dalil syar’i atau kauni. Al Qur’an misalnya adalah sebab syar’i bagi kesembuhan, bagitu pula madu, habbatsauda’, air zamzam, semuanya adalah sebab kesembuhan berdasarkan dalil Al Qur’an dan hadits yang shahih. Begitu pula api yang merupakan sebab kauni untuk membakar, dan seterusnya.
Tapi hubungan sebab-akibat bisa tidak berfungsi apabila Allah menghendaki. Berapa banyak obat yang diyakini sebagai sebab kesembuhan tapi tidak berfungsi pada sebagian orang, seperti api yang tidak berfungsi ketika digunakan untuk membakar nabi Ibrahim Alaihissalam.
Maka mengimani sebab-akibat tidak merusak tauhid selagi seseorang meyakini bahwa segala sesuatunya tergantung kehendak Allah.
Lalu benarkah pesawat Sukhoi yang jatuh beberapa waktu lalu ada hubungannya dengan makam Syekh Hasan, seperti yang dikatakan oleh KH Marsa Abdullah? “Di gunung Salak ada penunggunya, jadi harus ada syarat. Jangankan pesawat, dulu burung pun jatuh kalau terbang ke gunung Salak, tepat di atas makam keramat Syekh Hasan”.
Apa yang dikatakan Marsa ini nyata bertentangan dengan Islam, jelas tidak ada kaitan sebab-akibat antara kecelakaan pesawat dengan makam Syekh Hasan, tidak ada keterangan berupa dalil syar’i maupun pembuktian ilmiyah (kauni) dalam hal ini. Bahkan pernyataannya menunjukkan kedangkalan Marsa akan syariat Islam dan ajaran yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Marsa telah menjadikan sesuatu yang bukan sebab sebagai sebab, sehingga dia pun terjatuh kepada kesyirikan.
Marsa mengatakan: “Di gunung Salak ada penunggunya…”. Ajaran yang mirip dengan keyakinan banyak orang terhadap Nyi Roro Kidul ini kembali diungkap Marsa dengan redaksi yang berbeda. Kalau Nyi Roro Kidul “penguasa laut selatan” sedangkan makam Syekh Hasan “penunggu gunung Salak”.
Padahal Allah Ta’ala berfirman: “Katakanlah (wahai Muhammad kepada musyrikin Makkah): Milik siapakah bumi dan apa-apa yang ada padanya, apabila kalian mengetahui? Orang-orang (musyrikin) itu akan mengatakan: milik Allah. Katakan (kepada mereka): tidakkah kalian mengingat? Katakanlah (kepada mereka): siapakah yang penguasa langit yang tujuh dan penguasa ‘ary yang besar? Mereka akan menjawab: milik Allah. Katakan (kepada mereka): Tidakkah kalian bertakwa? (Qs. 23: 84-88)
Maka tidak ada penguasa semesta alam ini kecuali Allah, meski hanya sejengkal apalagi sampai segunung. Dan meyakini apa yang dikatakan Marsa dan keyakinan-keyakinan serupa merupakan kufur akbar yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.
Lebih jauh lagi, apabila kita perhatikan ayat di atas dan ayat-ayat serupa di dalam Al Qur’an, kita dapati bahwa orang-orang jahiliyah dahulu (musyrikin Quraisy) ternyata lebih mendapat petunjuk daripada Marsa yang bergelar Kyai. Orang-orang musyrikin dahulu mengakui hanya Allah Ta’ala penguasa tunggal alam semesta, sedangkan orang-orang seperti Marsa masih meyakini ada selain Allah yang ikut menguasai, ikut menjaga atau menunggui sebagian dari bumi Allah ini?! Apa Marsa tidak membaca firman Allah Ta’ala yang mengatakan; “Katakanlah (kepada orang-orang musyrik itu): Di tangan siapakah kerajaan segala sesuatu, sedangkan Dia melindungi dan tidak ada seorang pun bisa berlindung dari (siksa)nya, apabila kalian mengetahui? Mereka (musyrikin Quraisy) itu akan menjawab: Milik Allah. Katakan (kepada mereka): Maka bagaimana kalian bisa dipalingkan? (Qs. 23: 89)
Pak Kyai juga bilang: “Jangankan pesawat, dulu burung pun jatuh kalau terbang ke gunung Salak, tepat di atas makam keramat Syekh Hasan”.
Ada dua kemungkinan disini, Marsa telah berdusta atau Allah ingin menyesatkan orang-orang seperti Marsa. “Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) dari pada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan didunia dan diakhirat mereka beroleh siksaan yang besar”. (QS. 5:41)
Padahal cukup bagi orang yang diberi akal sehat untuk tidak percaya bualan Marsa dan orang yang sepertinya, yaitu peristiwa yang menimpa sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan Raden KH Moh Hasan bin R KH Bahyudin Praja Kusuma (Mbah Gunung Salak), yang berada di dekat lokasi Sukhoi naas, diberitakan telah rusak tertimpa logistik dari Super Puma.
Maka bagaimana bisa makam yang tidak dapat menolak kerusakan yang menimpa dirinya diyakini mampu menimpakan musibah dan bencana kepada orang lain?! Sungguh kecelakaan Sukhoi adalah musibah yang besar bagi keluarga yang ditinggal, tapi musibah yang keluar dari mulut Kyai Marsa dan Habib Barakbah jauh lebih besar.


Kala Mbah Gunung Salak ‘Mengatur’ Cuaca?!
 
Di Puncak Manik atau Puncak Salak Satu Gunung Salak, yang dijadikan tempat evakuasi korban kecelakaan pesawat Shukoi Super Jet 100, terdapat makam yang terbuat dari keramik putih.
Di atas kuburan tersebut, terdapat batu nisan bertuliskan ‘Raden KH Moh Hasan Bin R KH Bahyudin Praja Kusumah (Mbah Gunung Salak) Puncak Manik Gunung Salak’.
Kuburan tersebut lah yang dianggap sang kuncen cukup menentukan cuaca di Puncak Manik. Entah kenapa, setelah kuburan tersebut rusak karena tertimpa logistik yang dilemparkan dari atas Helikopter Super Puma, cuaca langsung berkabut.
Kemudian, seorang pria datang dan mengaku sebagai kuncen Gunung Salak. Ia lalu berdoa di atas makam tersebut. Tak lama, kabut pun perlahan menghilang. Kemudian, ia langsung berbicara dengan Letkol Shobri dari Kopassus dan Dandim.
“Kayaknya ia tidak rido, sehingga cuaca seperti ini. Bagaimana kalau kuburan tersebut dikelilingi tali biar tidak terganggu,” ujarnya memberi usul.
Tanpa banyak bicara lagi, pimpinan tim evakuasi di Puncak Manik langsung mengiyakan permintaan sang kuncen, dan langsung memerintahkan anak buahnya untuk memagar kuburan tersebut dengan tambang kuning.
“Saya pun tadi sudah meminta supaya mohon dimaafkan bila ada sesuatu, baik sebelum, sudah, dan akan terjadi. Memang kita tidak minta izin lebih dulu terhadap yang ada di sini,” Ucap Letkol Shobri menimpali pernyataan sang kuncen.
“Kami akan membangun kembali kuburan ini nanti,” cetus Shobri.
Setelah pembicaraan tersebut, cuaca kembali agak terang. Namun, ketika anggota TNI pada Senin (14/5/2012) menebangi pohon di Puncak Manik, kabut kembali turun, terutama ketika tanggul pohon di atas kuburan tersebut ditebang, dengan alasan untuk membuat helipad.
Namun, setelah ada dua  warga yang berdoa, kabut perlahan menghilang lagi. Tapi, penebangan pohon lain terus dilakukan di sekitar Puncak Manik, hingga akhirnya hujan turun sekitar pukul 13.00 WIB. Seolah-olah, orang yang di dalam kubur tersebut mampu ‘mengatur’ cuaca di Puncak Manik.
Tidak banyak warga yang tahu asal-usul orang yang dikubur di tempat tersebut, yang lokasinya tepat berada di Puncak Manik.
“Saya tidak tahu sejak kapan kuburan tersebut ada,” Kata Ading (61), warga sekitar saat ditemui Tribun.
Namun, menurut Ading, keturunan orang yang berada di makam tersebut ada banyak di Cijeruk, Bogor. Tapi, Ading tidak mengetahuinya persis.
Menurut warga, orang yang berada di dalam kubur tersebut berasal dari Banten. Terkait kenapa bisa dikuburkan di Puncak Manik, tak seorang pun tahu.
“Bukan hanya ini, dari arah Cidahu pun juga ada kuburan,” katanya. (TRIBUNnews.com)

Makam Mbah Gunung Salak Sering Dikunjungi Peziarah?!
Makam Raden KH Moh Hasan Bin R KH Bahyudin Praja Kusumah, atau dikenal warga sebagai Mbah Gunung Salak, sering didatangi para peziarah.
Kuburan yang berada tepat di atas Puncak Manik atau Puncak Salak Satu, Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, dianggap warga memiliki kekuatan mistik yang sangat kuat.
“Warga di sekitar sini banyak yang berziarah ke sini, begitu juga dari luar kota,” ucap Ading (61), warga Cijeruk, Bogor, Jawa Barat, Minggu (13/5/2012).
Menurutnya, mereka datang dengan berbagai permintaan, agar maksud dan tujuannya bisa menjadi kenyataan.
“Mau apa saja yang dimintanya, datang ke sini,” jelasnya.
Ading datang ke Puncak Manik untuk menjadi penunjuk jalan bagi pasukan Brimob. Ia sempat berdoa di atas kubur Mbah Gunung Salak bersama rekannya.
“Tapi, di sini sulit air. Jadi, mungkin orang-orang untuk berziarah jarang wudhu lebih dulu,” ujarnya.
Ketika wartawan turun gunung menuju Cimelati, Sukabumi, ada rombongan berjumlah sekitar empat orang, yang membawa air menuju ke Puncak Salak.
“Kami akan berziarah ke atas,” kata salah satu dari mereka, saat ditanya wartawan.
Seorang warga menjelaskan, kuburan tersebut dibangun oleh seseorang yang berada di sekitar Gunung Salak. Sehingga, kuburan Mbah Gunung Salak dikeramik dan menjadi bagus. Padahal, awalnya makam itu hanya berupa batu.
“Biasanya, yang berziarah banyaknya pada bulan Mulud (Maulid Nabi). Tapi, hari biasa pun warga banyak yang berziarah ke sini,” paparnya. 

Petilasan Di Puncak Gunung Salak
Dari beberapa puncak gunung Salak, di puncak gunung Salak I terdapat sebuah makam. Dan di makam tersebut tertulis “Makam Mbah Salak”. Mbah Salak tersebut tak lain adalah Kyai Haji Moh. Hasan. Beliau adalah keturunan Wali dari Syech Sunan Rochmat, Eyang Prabu Kian Santang, anak dari Sri Baduga Maharaja, sang penguasa Jawa Barat.
Meski demikian, makam tersebut bukanlah tempat peristirahatan dari Mbah Salak. Makam tersebut bukan kuburan, makam itu merupakan salah satu tempat semedi Mbah Salak semasa hidupnya.
Makam yang berada di titik ketinggian 2.211 Mdpl ini jarang dikunjungi oleh para pendaki karena dipercaya angker. Apalagi ditambah dengan makam Pangeran Santri yang letaknya berada tak begitu jauh ke arah turun menuju Desa Girijaya, Cidahu yang juga dianggap angker.
Dari berbagai keterangan ahli sejarah Jawa Barat, di Gunung Salak terdapat banyak sekali tempat petilasan atau tempat bersemedi para raja dan pengikutnya. Petilasan suci itu tersebar di berbagai titik. Seperti petilasan milik raja Pakuan Padjajaran, Prabu Sri Baduga Maharaja di kaki Gunung Salak di daerah Bogor dengan total mencapai lebih dari 91 lokasi. Diperkirakan, bisa ratusan jumlahnya karena pertapa dalam agama Hindu mensucikan Gunung Salak.
Di sana juga terdapat makam kuno yang berusia ratusan tahun dengan jumlah mencapai lebih dari 40 makam. Makam itu milik pemuka agama Hindu yang wafat dan dikuburkan di Gunung Salak. Sehingga, banyak yang menganggap jika ingin memasuki wilayah Gunung Salak, harus menjaga perilaku dan sopan santun.
Banyak yang mengira nama Gunung Salak berasal dari nama tanaman Salak, akan tetapi sesunguhnya nama gunung ini berasal dari bahasa Sansekerta “Salaka” yang berarti perak. Maka Gunung Salak bermakna “Gunung Perak.”
Budayawan dan Sejarawan Bogor, Eman Sulaeman mengemukakan diberbagai media, di kaki Gunung Salak pernah berdiri kerajaan Hindu pertama di Jawa Barat dengan nama Salakanagara pada abad ke-4 dan 5 Masehi.
Gunung Salak merupakan gunung berapi yang mempunyai dua puncak, yakni Puncak Salak I dan II. Letak astronomis puncak gunung ini ialah pada 6°43′ LS dan 106°44′ BT. Tinggi puncak Salak I, 2.211 meter dan Salak II, 2.180 meter dpl. Ada satu puncak lagi bernama Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 meter dpl.

0 komentar:

Poskan Komentar

1.Tidak Menggunakan Bahasa Yang Kasar
2.Tidak Mencantumkan Link Aktif
3.Tidak Boleh Meremehkan Artikel
4.Silahkan Berkomentar Jika Bingung
5.Silahkan Berkomentar Jika Ada Yang Gagal
6.Silahkan Berkomentar Jika Ada Yang Rusak
7.Silahkan Berkomentar Jika Ingin Berterimakasih
Jika Tidak Mematuhi Peraturan Akan Dianggap Spam!